Senin, 01 Agustus 2016

ketegangan

Saya menarik napas lega setelah mata bor itu terangkat dari mulut saya. Namun itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat setelah berkumur benda itu kembali menghujami gigi geraham saya yang berlubang. Seakan tak ingin menyisakan satupun kotoran yg bersarang , benda berputar itu terus mengitari lubang sementara saya tegang karena sesekali harus menahan ngilu.

Kini giliran benda pipa bulat kecil yang menjulur masuk ke mulut saya, mengalirkan udara ke sela sela gigi. Setelah kering maka beberapa buah kapas bulat dijebloskan ke dalam mulut untuk menjaga mulut saya tetap terbuka dan kering. Posisi ini sungguh membuat tidak nyaman, untungah rasa sakit itu sdh hilang. Namun ketegangan lainnya adalah menahan liur dan mencoba menelannya tanpa merubah posisi kapas kapas itu. Sesekali drg Gigi ini mengingatkan saya untuk tetap membuka mulut. Bentuk huruf A pak agar mudah ditambal timpalnya.

Setelah beberapa cairan dan benda berbentuk gel masuk ke lubang gigi, kini proses penambalan berlangsung. Tiga kali sebuah benda berwarna terang menyinari bekas tambalan hingga sy dapat berkumur lagi. Dokter itu memperhatikan sejenak, lalu ia meminta saya menggigit sesuatu . Memang terasa ada ganjalan. Setelah ia menghilangkan ganjalan yang masih terasa itu, barulah saya diperkenangkan meninggalkan kursi berputar ini. Namun saya baru benar benar bisa menarik napas lega setelah meninggalkan ketegangan lainnya di loket pembayaran, dan dengan pesan jangan makan yg panas panas dulu :) (yos 29/12/11)
e

Suatu pagi di Banda Aceh

Azan belum berkumandang ketika melangkahkan kaki memasuki gerbang utama mesjid Baiturrahman Banda Aceh. Meski gerbang utama tertutup namun kedua pintu sampingnya terbuka, demikian juga dengan di beberapa gerbang lainnya. Ada suasana haru saat memandang mesjid dari kejauhan tadi, terkenang kembali peristiwa tsunami desember 2004 lalu. Dimana dalam tayanga tv yg diulang berkali kali memperlihatkan betapa tempat suci ini aman dalam badai tsunami. Bahkan menjadi tempat perlindungan utama masyarakat Banda Aceh .Berbagai cerita muncul di masyarakat tentang fenomena ini, Rijal supir yang memandu kami sempat bercerita bahwa seorang tionghoa melihat mesjid ini terangkat saat tsunami. Maka ia sekeluarga akhirnya memilih masuk islam.

Saya menyempatkan diri berkeliling sekitar mesjid, meskipun sholat jumat tadi beberpa ruas telah sy kunjungi. Di pojok sebelah kiri sebuah papan informasi yang memperlihatkan sejarah mesjid ini di bangun. Dan usianya sudah cukup lama karena dibangun sejak tahun 1200 an. Tahapan tahapa renovasi pun dijelaskan, juga bagaimaan mesjd ini dibakar saat pendudukan kolonial karena mesjid ini menjadi markas para pejuang Atjeh. Bahkan di mesjid ini juga diabadikan peristiwa terbunuhnya Mayjend kohler pada tahun 1873 yang memipin pasukan Belanda untuk menguasai mesjid raya banda Aceh ini.

Rakyat Atjeh memang terkenal gigih menentang setiap kekuatan kekuatan yang ingin menjajah negerinya. Hal ini terlihat dari dokumentasi foto perang yang terpampang di rumah kediaman salah seorang srikandi Atjeh. Tjut Nyak Dien yang akhirnya di buang dan wafat di Sumedang karena melanjutkan perlawnan suaminya Teuku Umar. Meskipun sepihak foto foto dari Belanda namun telah memperlihatkan kegigihan pejuang saat berhadapan dengan musuh dengan persejataan yang lebih maju saat itu.

Azan telah berkumandang saat waktu telah menunjukkan pukul 6.00, memang waktu sholat di daerah ini lebih lambat dari daerah sy (sulawesi) di mana azan dikumandangkan sekitar pukul 5 pagi. Setelah sholat shubuh, menyusuri simpang lima yang sebelumnya melintasi Kodam Iskandar Muda yang berada di depan kanal. Sudah tak tampak lagi kapal kapal nelayan yang memenuhi kanal siang tadi. Dan memang kebiasaan para nelayan Atjeh belum melaut sebelum shlota jumat. Mereka melaut hingga jauh ke tempat lain, bahkan tak jarang yang melaut hingga hitungan bulan. Saat menuju pantai Lhoknga tadi sempat memperhatikan perahu nelayan yang warna warni ini, bahkan cukup unik melihat belakang perahu yg berbentuk persegi. Sangat berbda dengan perahu di dareh kami yg umumnya lancip di kedua ujungnya.

Pasar pagi di sekitar REX sudah mulai ramai beraktifitas. Para pedagang yg sebagian besar pedagang sayur telah menggelar dagangannya. Memesan secangkir kopi ulee kareng sebelum beranjak kembali ke hotel. Selamat pagi Atjeh

Sabang titik nol RI

Kurangnya informasi mengenai jadwal ferry ke pulau sabang membuat kami harus berada di pelabuhan Ulee lheu selama 3 jam. Namun ada hikmahnya juga karena kami bisa eksplore pelabuhan ini sambil mengambil gambar dengan beberapa view yang cukup bagus.

Pelabuhan yang dibangun kembali pada tahun 2005 ini akibat terjangan tsunami pada tahun 2004 cukup cantik dan bersih, sangat berbeda degan pelabuhan lainnya. Maklum saja karena pelabuhan ini dibangun oleh bantuan pemerintah Australia saat terjadi tsunami Desember 2004 lalu. Hal ini dapat kita lihat dari batu prasasti yg di ttd oleh Alexander Downer.

Pelabuhan yang dikelilingi taman ini juga dilengkapi dengan musholla. Karena waktu yang cukup banyak, kami sempat menikmati kopi aceh dan sebelum makan siang di kompleks pelabuhan Menu yang ditawarkan pun cukup lengkap mulai dari makanan khas aceh hingga makanan padang. Kami jatuhkan pilihan pada makanan Padang dan mengajak serta guide lokal dadakan kami. Mengapa sy katakan dadakan karena dua orang tukang becak yg gagal merayu kami menumpang becaknya terpaksa harus berubah haluan menjadi pemandu lokal kami di wilayah pelabuhan ini.

Selesai sholat Dhuhur yang jatuh pkl 13.00 kami segera menuju ferry yg sdh siap. Setiap hari ada dua ferry yang melayani rute banda aceh Ulee Lheu ke Balohan Sabang. Yang pagi jam 8 dilayani dengan ferry cepat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Sementara ferry yang sy tumpangi ini termasuk kategory lambat yang mem butuhkan waktu 2 jam. Tidak memungkinkan bagi kami untuk memesan ferry cepat ini karena masih ada kegiatan di hotel Hermes pagi tadi. Yang tak kami ketahui sebelumnya adalah bahwa pada hari ini (kamis 15 Maret) jadwal ferry berangkat pukul 2 siang sementara informasi yang kami terima adalah pemberangkatan pukul 12 siang . Maka beberapa objek wisata di Banda Aceh terpaksa kami lewatkan karena takut ketinggalan ferry.

Mobil2 telah berada di atas ferry ketika sy menjejakkan kaki sy diatas ferry. Terlihat beberapa mobil pribadi, pengangkut sayur dan ternak juga sudah berada di atas ferry. sy segera menemui kru kapal untuk mendapat kamar untuk berisitirahat. Memafaatkan waktu ngobrol di ruang kemudi bersama beberapa awak kapal. Kapten kapal David yang berasal dari Flores menjelaskan tentang kapalnya, jarak tempuh dan tempat2 yang akan kami lewati. Beberap kapal nelayan melintas di depan kami. Juru kemudi senantiasa fokus pada kemudinya. Perjalanan 2 jam ini tidak terlalu berat karena cuaca cukup mendukung.

Sy menghubungi salah seorang pemilik bungalow di Sabang, informasi bungalow ini sy lihat terpampang di loket pembelian tiket. Setelah memesan kamar yg menghadap ke laut, tiba tiba hp sy berdering rupanya dari nomor lain dari bungalow. Seseorang wanita bule yg fasih berbahasa indonesia terdengar di ujung telepon. Sy meminta ia mengirim alamat lengkap setelah ia memberi saran dan petunjuk bagaimana sampai di bungalownya.

Ferry tua yang dibuat di awal tahun tahun 90 an ini masih mantap melayari rute Ulee lheu - Balohan .Sebenarnya ferry ini merupakan ferry pengganti ferry utama yang tengah naik dok. Sebelumnya ferry ini melayari rute Sibolga dan Nias. Ada sekitar 20 awak kapal di ferry ini tutur sang kapten.

Jam di ruang kemudi menunjukkan pukul 4 sore saat juru kemudi Ernawan memutar haluan ke kiri. Nampak kawah gunung berapi di sisi kami. Kawahnya yg masih mengepulkan asap putih tertilhat jelas saat kami melintas. KMP Tanjung Berung begitulah nama ferry tua ini, " Ini nama dari salah satu daerah di wilayah Tual Ambon" jelas sang kapten. Terdengar seseorang berbicara dengan sang kapten di celulernya.yang memintanya untuk segera kembali pada malam ini juga, padahal biasanya mereka balik pada keesokan harinya. Kemungkinan jadwal dadakan ini diakibatkan oleh jadwal kampanye pemilihan gubernur yang tengah berlangsung. Dari info kawan alumni dari amerika yang kini menjadi tim sukses salah satu kandidat menginfokan bahwa ia juga berada di sabang namun tdk bermalam karena balik pada hari yg sama.

Suhu politik yang memanas di Aceh, berdampak pada peningkatan pengamanan karena beberapa kasus yang terjadi akhir akhir ini. 5 menit lewat pukul empat seorang awak kapal mengumukan ketibaan kapal dan jadwal kepulangannya malam ini.

Kami beruntung mendapat mobil sewaan dengan harga Rp. 100 ribu untuk kami bertiga. Biasanya harga yang mereka kenakan rp. 50.000 per orang. Dan akhirny Toyota kijang ini bergerak meninggalkan pelabuhan ferry dengan hanya penumpang kami bertiga. Kendaraan ini memuat 6 orang, namun setelah menunggu beberapa saat tadi ternyata hanya kami bertiga.

Kami merubah jadwal menuju titik Nol kilometer RI yang berada di pulau ini. Sebelumnya kami merencanakan untuk menuju titik ini keesokan harinya, namun memperhitungkan jarak yg cukup jauh, maka kami metuskan untuk segera ke sana sore ini. Selain pertimbangan Agus driver yang membawa kami yang menyarankan untuk melihat sunset di atas, juga waktu yang agak sempit jika melakukanya besok karena kami memutuskan untk mengambil ferry cepat yang berangkat pagi.

Beberap ekor monyet segera mendekat begitu Agus memarkirkan kendaraannya di tugu Nol kilometer ini. Pemandangan indah segera tersaji di depan kami, kawasan hutan lindung yang cukup luas di pulau ini memberikan kesejukan tersendiri. Meski tak mendapati sunset namun pemandangan Alam di sini cukup menghibur kami. Sebuah tugu berlantai tiga dengan tinggi sekitar 10 meter segera menjadi perhatian kami. Itulah tugu Nol kilometer RI. Teringat lagu dari sabang sampai marauke, disinilah titik awal negara kesatua republik Indonesia. Sebuah prasasti yang ditanda tangani BJ Habibie menuliskan letak koordinat titik ini. Dan dipuncak tugu bertengger Garuda dengan angka Nol di kakinya. Ya akhirnya sy berkesempatan menyentuh titik Nol negara sy, sambil berharap suatu hari dapat menyentuh titik ujung lainnya yang berada di kota Merauke Irian Jaya. .....Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.....(Sabang 15 Maret 2012)
LikeShow more reactions
Comment

Minggu, 31 Juli 2016

dapur ibu

Comments
Muhammad Yusuf Saleh Yos
Write a comment...

Agak sulit menemukan tempat untuk parkir, seluruh tepi jalan telah penuh oleh mobil para pengunjung warung. Saya terpaksa harus memarkir kendaraan di tempat yg agak jauh dari warung. Antrean orang mengambil makanan segera terlihat begitu memasuki warung makan ini. Pada jam istirahat makan seperti ini menjadi waktu tersibuk buat warung makanan yang bernama warung ibu ini. Terletak di tengah kota kolaka ,tepatnya di jalan merdeka menjadikan warung ini menjadi pilihan oleh para pegawai yang berkantor di daerah ini.

Sy termasuk salah satu pelanggan setia warung yang didominasi warna merah ini. Yang menjadi alasan sy menjatuhkan pilihan warung ini adalah, karena harga dan variasi menunya. Kita bisa menentukan jenis makanan yang kan kita santap, berbagai jenis ikan segar, sayur dan lauk lainnya tersedia di sini. Dengan beragam menu ini membuat kita banyak pilihan, sehingga tidak bosan dengan menu yang sama. Selain beragamnya menu kesegaran makanan yang dihidangkan juga dapat kita rasakan.

Sy yang hampir saban hari ke warung ini sudah hapal jam buka dan tutupnya warung, bukan hanya itu sy bahkan tahu jam jam terbaik ke warung ini. Pukul 10 pagi menjadi pilihan terbaik sy, dengan pertimbangan pada jam ini menu sudah lengkap serta kita bisa menyantap makanan dalam keadaan hangat atau 'fresh ferom the open'. Pengalaman beberapa kali mengunjungi warung yang buka pkl 8.30 ini di jam awal buka, namun kadang menunya belum lengkap.

Konsep yang mirip mirip 'all you can eat' ini sayang kalau tidak dimanfaatkan, itulah mengapa sy memlih pukul 10 sebagai waktu terbaik. Karena tak jarang sy menggabungkan antara sarapan dan makan siang. Jika tidak sempat sarapan, maka sy hanya minum kopi dan biskuit pada pagi harinya lalu pada jam itu mengisi perut sekaligus makan siang. Porsi yang banyak ini bahkan masih membuat kita kenyang hingga malam hari. Tentu ini tidak kita dapatkan di warungwarung yang lain di kota kecil ini.

Sebelum di warung ini sy sempat jatuh hati pada sebuah warung yang sesuai selera sy. Persoalan muncul ketika mereka mulai menaikkan harga secara sepihak. Sy sempat merekomendasika pada kawan kawan, namun pada kunjungan kedua bersama kawan sy mereka meminta 80 ribu untuk makanan sederhana. Hal yang sy sukai dari warung ini sebenarnya adalah pemandangan yang langsung ke arah laut ,serta menu khusus kepitingnya. Namun sy segera beralih mencari warung lain setelah mereka tidak konsisten pada harga ini.

Pertimbangan yang lain dalam memilih warung Ibu adalah tentu saja harganya. Boleh dibilang warung ini cukup murah dibanding warung warung lainnya. Harga memang tergantug pada menu yang kita pilih, namun pengalaman sy kisaran harga berkisar 12 hingga 20 ribu. Apalagi dengan keragaman dan kesegarannya memberi nilai tambah lebih pada warung itu. Bukan itu saja, mereka menyiapkan nasi untuk tambahan, serta pisang kecil sebagai penutup makan kita. Bahkan sy sempat heran ketika mendapatkan harga separuh lebih murah dengan sebuah warung yang menawarkan menu yang sama. Sy biasa ke sebuah warung yang menjual soup kepala ikan dengan bandrol harga 50 ribu per porsi, sementara di sini sy hanya membayar rp. 20 ribu dengan rasa yg tak kalah jauh beda.


Warung ibu ini juga rupanya paham dengan konsep lokal, sebuah loket di sebelah kiri menyiapkan menu lokal. Di Sulawesi Selatan kami mengenalnya dengan Kapurung, makanan khas sulawesi yang terbuat dari sagu. Mereka menyebutnya sinonggi, menu ini semakin melengkapi menu yang ada. Jika berkunjung ke kota kecil ini silahkan mampir untuk merasakan berbagai kuliner ikan yg banyak di daerah ini, mulai ikan bakan, masak dan goreng ada di sini. Mari makan

berburu durian

uhammad Yusuf Saleh Yos published a note.
Saya menepikan mobil saat melihat lambaian sekolompok anak anak dipinggir jalan. Mereka segera berlompatan naik ke bak mobil double kabin ini. Saya tersenyum melihat tingkah mereka dari balik kaca, mereka ngobrol , tertawa dan sesekali berdiri menerpakan angin ke wajah mereka.

Taksekali ini saya menepikan mobil mengangkut anak anak ini, pernah sekali sy mengangkut anak anak yang hendak bermain bola. Kawan sy bertanya mengapa mengangkut anak anak ini ? Sy hanya menjawab bahwa kelak jika ada diantara mereka yg menjadi pemain bola profesional , ia pasti akan mengingat moment ini. Ia akan bercerita bahwa bagaimana ia dulu ketika berlatih bola di kampungnya.

Bukan hanya itu pernah suatu ketika, saat melintasi sebuah perkampungan di pedalaman sy mengangkut penumpang yg rupanya kesulitan memperoleh angkutan. Saat itu sy yang menyetir mobil pejabat negara kawan saya, dan terpaksa ia harus berbagi kursi dengan penumpang yang membawa serta ayam ayamnya.

Saat terjadi krisis moneter, di Jakarta tumpang menumpang mobil ini mulai menjadi trend. Sy setiap hari menyetir mobil sendiri dari rumah di Karawaci menuju kantor di Sudirman. Suatu saat sy menepikan mobil di sebuah tempat, tiba tiba segerombol orang telah mengelilingi mobil. Sy sempat kaget dan shock, sy pikir ada perampokan atau kerusuhan. Ternyata mereka pikir sy menepikan mobil untuk mengambil tumpangan. Karena tidak ada pilihan sy segera membuka pintu dan mereka berebut naik. Sy baru tahu saat mereka turun mereka menaruh uang secukupnya di dekat rem tangan mobil.

Bukan tanpa alasan sy sering menepikan mobil mengangkut tumpangan. Saat sy remaja, saya sering mendaki gunung. Lokasi menuju tempat pendakian tidak dilalui kendaraan umum. Kami menghadang truk yang menuju ke tempat pendakian demikian juga sebaliknya. Tak jarang kami harus berbagi tempat dengan buah buahan dan tak jarang juga buah buah ini berpindah tempat ke perut kami.

Saat masih kecil, sy juga sering menumpang mobil tetangga sy. Kebetulan ia seorang supir, saat itu mobil sangat langka hanya bisa dihitung jari. Maka acara mencuci mobil ke sungai menjadi ritual yang menyenangkan. Saat kembali dari sungai kami segera berebut naik ke mobil, mencari posisi di atas kap. Inilah posisi terbaik untuk menangkap mangga yang banyak bergelantungan di sepanjang jalan menuju ke rumah.

Hidup di dunia ini pun ibarat kita menumpang, ada saat dan tempat kita berhenti.

Pomalaa 5 january. 2013

menumpang

Write a comment...
Saya menepikan mobil saat melihat lambaian sekolompok anak anak dipinggir jalan. Mereka segera berlompatan naik ke bak mobil double kabin ini. Saya tersenyum melihat tingkah mereka dari balik kaca, mereka ngobrol , tertawa dan sesekali berdiri menerpakan angin ke wajah mereka.

Taksekali ini saya menepikan mobil mengangkut anak anak ini, pernah sekali sy mengangkut anak anak yang hendak bermain bola. Kawan sy bertanya mengapa mengangkut anak anak ini ? Sy hanya menjawab bahwa kelak jika ada diantara mereka yg menjadi pemain bola profesional , ia pasti akan mengingat moment ini. Ia akan bercerita bahwa bagaimana ia dulu ketika berlatih bola di kampungnya.

Bukan hanya itu pernah suatu ketika, saat melintasi sebuah perkampungan di pedalaman sy mengangkut penumpang yg rupanya kesulitan memperoleh angkutan. Saat itu sy yang menyetir mobil pejabat negara kawan saya, dan terpaksa ia harus berbagi kursi dengan penumpang yang membawa serta ayam ayamnya.

Saat terjadi krisis moneter, di Jakarta tumpang menumpang mobil ini mulai menjadi trend. Sy setiap hari menyetir mobil sendiri dari rumah di Karawaci menuju kantor di Sudirman. Suatu saat sy menepikan mobil di sebuah tempat, tiba tiba segerombol orang telah mengelilingi mobil. Sy sempat kaget dan shock, sy pikir ada perampokan atau kerusuhan. Ternyata mereka pikir sy menepikan mobil untuk mengambil tumpangan. Karena tidak ada pilihan sy segera membuka pintu dan mereka berebut naik. Sy baru tahu saat mereka turun mereka menaruh uang secukupnya di dekat rem tangan mobil.

Bukan tanpa alasan sy sering menepikan mobil mengangkut tumpangan. Saat sy remaja, saya sering mendaki gunung. Lokasi menuju tempat pendakian tidak dilalui kendaraan umum. Kami menghadang truk yang menuju ke tempat pendakian demikian juga sebaliknya. Tak jarang kami harus berbagi tempat dengan buah buahan dan tak jarang juga buah buah ini berpindah tempat ke perut kami.

Saat masih kecil, sy juga sering menumpang mobil tetangga sy. Kebetulan ia seorang supir, saat itu mobil sangat langka hanya bisa dihitung jari. Maka acara mencuci mobil ke sungai menjadi ritual yang menyenangkan. Saat kembali dari sungai kami segera berebut naik ke mobil, mencari posisi di atas kap. Inilah posisi terbaik untuk menangkap mangga yang banyak bergelantungan di sepanjang jalan menuju ke rumah.

Hidup di dunia ini pun ibarat kita menumpang, ada saat dan tempat kita berhenti.

Pomalaa 5 january. 201

Banjir Makassar 87

Banjir Makassar 87

Peristiwanya sudahsangat lama, namun banjir yang melanda Jakarta menguak kembali ingatan itu. Saat masih dibangku SLTA, kompleks kediaman Saya menjadi langganan banjir tahunan. Penyebabnya adalah beberapa kawasan elit mengepung kompleks kami, maka tak ayal BTN CV. Dewi kompleks saya kerap tergenang air..

Sekitar tahun 87 banjir mencapai puncaknya, kami terjebak dalam kompleks. Hampir seluruh warga kompleks mengungsi. Kami yang Tadinya menikmati banjir dengan bermain getek batang pisang kini harus lebih waspada. Ketinggian air beberapa hari itu sudah mencapai perut bahkan beberapa blok yang berada di belakang hingga mencapai dada orang dewasa.

Rakit kami tak bisa lagi menolong warga, bantuan kini mngandalkan perahu karet dari Marinir. Penerangan lampu yang seadanya makin membuat kompleks yang kosong ini mencekam. Kasus pencurian tidak sedikit jumlahnya, rumah rumah takberpenghiuni ini kerap disaatroni orang orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Blok saya terendam hingga perut, sementara ketinggian dalam rumah hingga lutut. Semua peralatan hingga tempat tidur terendam air. Beberapa dari kami bergiliran jaga. Kursi kursi kami naikkan di dipan tempat tidur, itupun masih kami ganjal dengan beberapa buah bata merah, sementara kasur kasur telah berada di atas lemari. Kami tak bisa ke sekolah, selain jalanan yang terendam baju baju kami pun tak ada yg kering.

Sy bisa membayangkan warga jakarta yang kini menjadi korban banjir. Anak anak tak bersekolah, ancaman penyakit pasca banjir, kerusakan barang , kerawanan dan kesulitan bahan makanan. Persolan banjir sudah sangat jelas, pemukiman yang tidak tertata dengan baik. Kebanyaka berada dalam resapan air, sementara saluran air pun tak jarang tersumbat karena warga yang kurang disiplin membuang sampah. Hingga saat musim hujan tiba, air terjebak. Bahkan meski tak hujan namun terkadang kita mendapat banjir kiriman dari wilayah lain. yang berada di ketinggian.

Beberapa negara cukup smart dalam menangani air tergenang ini, beberapa negara di Eropa membuat kanal, yang meungkinkan air berputar secara lancar di dalam kota saat pasang, dan kembali lagi saat surut tampa menimbulkan dampak banjir. Sementara negara tetangga kita. Malaysia membangun smart tunnel, sebuah jalan tol yang berfungsi ganda. Saat air pasang maka ia menjadi penampung air dan melarang warga melintasi jalan tersebut hingga air kembali surut. Kepatuhan dan kedisiplinan akan mebuat kita terbebas dari rendaman air ini.